Rabu, 15 Januari 2014

Masakan Ibu...

21 Agustus 2013
Hari ini hari ketiga di Asrama setelah liburan lebaran. Entah mengapa, setiap melihat menu makanan di asrama selalu terngiang kata-kata ibu. Setiap adek-adek saya pulang ke rumah untuk liburan, ibu selalu menyediakan makanan yang enak-enak. Ayah juga sering mengajak kami untuk makan di luar. Dulu saya berpikir bahwa itu karena ingin membuat senang adek-adek karena di pondok jarang makan enak,hoho. Sebenarnya kami yang dirumah pun jarang makan diluar, makanan di rumah juga sederhana tapi tetaplah enak :)
Apalagi tahun ini dirumah tinggal si kecil. Saya pembinaan di Bogor, adek saya yang pertama dan kedua di pondok. Alhasil rumah jadi tambah krik krik krik. Saya sudah menduga jika nanti saya pulang, pasti keluarga saya akan berfoya-foya. Dan benar saja, masakan ibu sangat wah setiap harinya, belum lagi ditambah ”jajan” di luar (makanan berat juga sih sebenarnya,hehe). Padahal formasi tahun ini tidak lengkap, adek saya yang kedua harus bermukim dipondok karena sudah kelas 5 (setara dengan kelas 2 SMA). Saya sempat komplain ke ibu “Bu, sudahlah, makanannya yang wajar aja, yang biasa ibu dan ayah makan, ini menghabiskan uang.” Seketika itu ibu langsung menjawab, “Gapapalah, yang penting kita bisa makan enak bareng-bareng. Kalaupun nanti uang ibu masih ada dan makan enak tetap aja rasanya ga enak karena ga bisa ngerasain makanan itu bareng-bareng kalian.” Nyeesss...terdiam..dan tentu saja membuat mata berkaca-kaca.
Ah, ibu...sekarang aku paham mengapa engkau selalu berbuat seperti itu. Ya, terkadang kita salah mengartikan keinginan ibu yang sederhana. Melihat kami tertawa bersama, melihat kami menghabiskan masakannya, melihat kami berebut mengambil hidangannya. Ia hanya ingin melihat hal-hal yang sangat ia rindukan, ia tidak pernah memikirkan apa yang akan mereka makan setelah kami pergi satu per satu. Hanya sederhana, tapi kita tak pernah memahaminya.

Hipnoterapi



Ada yang lain dikuliah performa karena untuk pertama kalinya aku di hipnoterapi. Istilah ini sudah sangat familiar ditelingaku, karena salah seorang teman dikampus (yang juga seorang trainer) juga memilki metode ini dalam konsep trainingnya. Dia pernah ingin menjadikanku sebagai kelinci percobaanya, tapi karena terkendala satu dan lain hal akhirnya sampe detik ini saya belum pernah di hipno olehnya -__-“
Terkadang aku berpikir, bisa ga ya aku di hipno? Jangan-jangan aku ga bisa, ga ngaruh, tapi ya sudahlah, di coba saja.
Saya nggak tau, apakah itu saya sudah bisa berhasil di hipno atao ga, yang pasti aq sangat menikmati imajinasi yang saya bentuk, balon dengan gas helium, benar-benar membuatku terasa ringan untuk naik, benar-benar seakan-akan mau terbang, tetapi ketika mulai ditambah dengan buku yang semakin berat, membuatku seakan-akan mulai turun-turun dan merasakan berat ditangan, bahkan itu masih saya rasakan setelah diminta untuk membuka mata. Pegal ditangan kiri dan ringan ditangan kanan. Saya berimajinasi ada dipinggir pantai, dengan udara sepoi-sepoi dan matahari yang sudah mulai bersinar dibawah pohon kelapa, sejuk, hening, dan sendiri. Ketika membuka mata saya masih merasa silau dengan sinar matahari yang ada,
Ketika Pak Zein menyuruh kami untuk memejamkan mata lagi dengan membayangkan mimpi-mimpi kita, aku sangat menikmatinya. Membayangkan ibu dan ayah sudah memaikai baju ihrom putih, bersih, seraya tersenyum, lepas,,sangat lepas..memelukku dan berkata “ ibu, ayah bangga Nis” Labbaikallahumaa labaika labaik, membayangkan ibu dan ayah thawaf di depan ka’bah. Mimpi itu benar-benar seperti nyata didepanku. Cukup untuk membuat air mata menetes, karena disamping berimajinasi saya teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu dimana ibu dan ayah kebingungan mencari uang untuk keperluan pendidikan kami. Dan yang tersisa adalah tabungan haji milik beliau. Seperti yang kita ketahui, ketika kita memang bertekad untuk menabung haji maka tak ada satu sen pun uang yang dapat kita ambil. Saya masih ingat bagaimana mereka harus merayu, membujuk dan meyakinkan pihak bank untuk dapat mengambil uang itu. Semenjak itu, aku bertekad, mudahkanlah hambamu ini untuk dapat menggantinya ya Rabb, mudahkanlah hamba untuk mewujudkan mimpi mereka.
Berlanjut ke mimpi yang lain, pak zein mengajak kami untuk bermimpi tentang rumah,, membayangkan bagaimana ruang tamu saya, membayangkan tawa ayah dan ibu di sana, membayangkan isengnya adek-adekku, ah walapun rumah kami tidak luas, tapi aku sangat menikmati kebersamaan. Saya hanya ingin orang tuaku hidup selayaknya orang lain. Bahagia itu sederhana. Jika diberi nikmat bersyukur dan diberi musibah kami bersabar. Bahagia itu sederhana. Melihat orang tua dan adik-adik tertawa lepas. Cerah. Ceria. Dan hanya itu lah yang membuatku selalu ingin bersama mereka. Senyuman yang penuh dengan keikhlasan. 
Mudahkanlah hamba merengkuh mimpi-mimpi itu ya Rabb.. Aamiin..

Ice Breaking Performa



Malam ini lagi-lagi pembicaraan di paviliun terasa hot bagiku. Kali ini bukan topik “biasa” yang sudah sering  diangkat, tapi topik yang secara langsung namaku dibawa-bawa sebagai bahan “percontohan” dan membuatku melongo dan akhirnya menutup muka. Performa! Materi kuliah hari kamis pekan ini, yang konon bakalan diajari cara duduk, cara berbicara, cara berjalan,cara berbicara, dsb. “Gini nih klo nisa lagi jalan” sambil memperagakan cara berjalanku. “Eh-eh, besok kalo disuruh ngasi contoh, kita bilang aja ‘nisa, nisa, nisa, nisa’” celetuk salah seorang dan membuat yang lainnya setuju dan akhirnya ikut-ikutan menyebut namaku. Oh My God!  Tutup muka, menghilang, clink! Oh sayangnya kenyataan tidak bisa membuatku menghilang o.O
Aku hanya (sedikit) mengancam dengan mengatakan “Awas ya klo besok ngomong gitu, besok ga bisa masuk paviliun! Huh!” dan semuanya tertawa ngakak, -_________-“
Komentar mereka mengingatkanku pada komentar-komentar teman-teman saya dikampus. “Eh, Mu (dikampus saya dipanggil Ummu) style jalanmu itu cool banget deh, kalo kamu jadi cowok, aku udah naksir kamu tuh” dan aku pun cuma melongo jilid satu. Ada lagi yang lebih parah, bilang gini nih “Kayaknya akhwat yang paling preman itu ente deh Mu,, jalanmu itu lho” Busyeeet,muke gile.. gue disamain ama preman..ckck. Lagi2, akhirnya aq cuma melongo jilid dua. Fiuh. Ntahlah, mungkin karena saya stylenya santai dan cuek akhirnya memunculkan kreasi berjalan yang ga biasa dikalangan seorang wanita. Haha.. Yuhu, It’s my style!
Hari yang (tidak) ditunggu-tunggu pun tiba. Ternyata sodara-sodara, mimpi buruk saya pun terjadi lebih awal. Ice breaking yang diusung oleh mbk chicha membuat teman-teman paviliun tertawa karena teringat pembicaraan tadi malam. Di ice breaking ini, akan ada pena yang berjalan berputar, ketika mbk.chicha bilang “stop” maka orang yang membawa pena akan memperagakan gaya teman-temannya. Fiuh, Yang saya lakukan adalah menghela nafas, pasrah dan berdoa agar teman-teman sepaviliun tidak benar-benar memperagakan style-ku. O’ooo..ternyata benar sodara-sodara. Mahasiswa SGI asal Solo dengan polosnya menirukan gayaku didepan. Aku hanya menutup wajah. Sepersekian detik mereka belum bisa menebak gaya siapa gerangan. Akan tetapi, suara Uda Rio membuat semua tertawa “Itu gaya Nisa!”. Baiklah, fine! Cling!
Hehe.. Pasrah..

Cermin-cermin kecilku



24 Agustus 2013
Pluk..pluk..pluk. Suara sepatuku semakin cepat. Beradu satu dengan yang lain. Mengejar waktu yang terus bergulir. Hembusan angin yang sepoi-sepoi menggerakkan ujung kerudungku. Udara jalanan yang tak lagi bersih, dengan suara dengungan motor dan mobil yang saling berkejaran mengiri perjalananku pagi ini.
Senyum tak hilang dari bibir manisku ini. Tangan tak sengaja kukepalkan. Seakan-akan mampu menyalurkan energi dari kepalan tangan ke seluruh tubuh. Yeah!. Hari ini sangat membuatku bersemangat. Ya, hari pertama memasuki kelas yang nantinya akan menjadi hari-hariku selama satu bulan ke depan.
Langkah kakiku terhenti di depan kelas berukuran 5x6. Tirai birunya telah terbuka ketika saya datang. Kelas ini sebenarnya tak berbeda dengan kelas yang lain. Cukup besar tetapi ukuran yang pas untuk 30 orang siswa. Pandanganku mengitari sekitar. Berbagai display dan administrasi kelas telah menghiasi dinding mereka. Terkadang tercium aroma kamar mandi. Pesing, agak membuatku mual. Hari ini saya berniat untuk memperkenalkan diri didepan calon siswa-siswaku.
Diawal perkenalan, saya mengajak mereka untuk bernyanyi bersama. Ayo Kawan Berkumpulnya Tasya adalah lagu yang saya pilih. Dengan full ekspresi, saya memulai mengajak mereka bernyanyi.  Dan ternyataaaa....eng ing eng.. mereka tidak mengetahui lagu itu! Krik krik krik..dan jangkrik pun berbunyi..wuuussshhh,,ziiinnkkk...angin pun berhembus dan tiba-tiba rasanya ingin menghilang seketika. Hehe.. Akhirnya saya harus mendektekan teks lagu tersebut dan kemudian mereka menirukan suara saya.
Ayo kawan,
Ayo kawan berkumpul,
Berkumpul bersenang-senang semuanya,
Jangan segan
Jangan segan bersama
Bersama menyanyi bergembira..
            Mereka cukup antusias, walaupun tatapannya masih seakan-akan melihat orang asing yang ingin menculiknya. Dan ekspresi mereka masih sangatlah datar. Padahal saya sudah bersemangat dan semua ekspresi sudah saya keluarkan. Sepertinya ini adalah masalah. Tetapi saya hanya berani menduga saja.
Rule perkenalan saya atur dengan menyebutkan nama dan cita-cita yang disertai gerakan khas dari profesi yang mereka impikan. Saya ingin mereka percaya diri dengan cita-citanya sejak kecil sehingga dengan menirukan gerakannya mampu menginternalisasi ke dalam dirinya. Semula membuat mereka enggan melakukannya, karena malu! Setelah saya dorong-dorong dan mendekati ke mejanya, akhirnya ada seorang anak yang memberanikan diri untuk maju ke depan kelas dan memperkenalkan dirinya. Satu persatu memperkenalkan dirinya. Ada yang ingin menjadi guru, ada yang ingin menjadi pemain bola, bahkan ada yang ingin menjadi chef. Di akhir perkenalan saya memotivasi mereka untuk mengejar mimpi mereka. Tatapan mata mereka sudah berubah. Setidaknya itu sudah cukup.
 Sesampainya di asrama, saya mendapat banyak cerita tentang perkenalan teman-temanku dengan murid-muridnya. Cerita-ceritanya semakin membuatku tercengang. Murid-murid mereka begitu ekspresif, mereka kesulitan menguasai kelas. Bahkan ada yang tarik sana sini untuk meminta foto teman saya! Wow, begitu ekspresif dan sedikit radikal. Sangat berbeda sekali dengan kelas saya. Sepi, hening, tenang. Ya, saya bertekad suatu saat nanti akan berhasil membuat mereka untuk lebih ceria, bersemangat dan berani belajar!! Tekad ini membuatku semakin bersemangat dan tertantang, karena saya sudah menemukan masalah.

10 September 2013
Observasi magang yang kedua ini membuat saya harus bekerja keras melawan malu. Ketika Mbak Yuli (observer saya) memberitahu tiba-tiba jika hari ini beliau akan menilai cara mengajar saya. Rasanya hari ini saya banyak beristighfar dan menutup muka dengan tangan. Bangun lebih awal untuk mengisi ruhiyah dan meyakinkan diri sendiri bahwa saya bisa!  Memangnya kenapa toh hari ini? Padahal observasi pertama tidak seperti ini? Karena materi observasi hari ini adalah bertepatan dengan materi deklamasi puisi. Jadinya kan mau tidak mau saya harus memberi mereka contoh bagaimana membaca puisi yang baik. Dan nyatanya saya malas untuk berekspresi yang lebay didepan kelas jika dilihat orang lain. Alhasil saya pun grogi. Tapi ya sudahlah, saya pasrah, semoga hari ini saya berusaha dengan cara yang terbaik.
Dengan tergesa-gesa saya memasuki kelas, anak-anak telah menanti saya dan berteriak-teriak “Ibu, nanti kita baca puisi ya?”. “Iya sayang” kataku sambil mempersiapkan speaker aktif untuk ice breaking. Tiba-tiba ada seorang anak menghampiriku didepan kelas. Ferdy namanya. Dia termasuk siswa yang cerdas, aktif dan mempunyai keingintahuan yang besar. Pipinya yang gembul membuatku gemas dan ingin mencubitnya setiap saya bertemu dengannya. “Bu, sampai kapan mengajar di sini?” tanyanya. Pertanyaannya membuat tanganku berhenti dan menatap wajahnya lekat-lekat. “Sampai akhir bulan ini Ferdy”, jawabku. Dia seketika langsung menyahut “Selama-lamanya aja Bu ngajar di sini, ibu enak ngajarnya, saya suka belajar dengan ibu”. Kata-katanya cukup membuat saya melayang,ada semerbak bunga yang tiba-tiba berhamburan. #lebay,hehe. Seketika itu pula tangan saya mengusap rambutnya yang seakan-akan mengatakan bahwa suatu saat nanti kamu akan mendapat guru seperti saya.
Setelah saya berbincang-bincang dengan Ferdy, saya berjalan-jalan mengelilingi kelas menanyakan tugas yang saya berikan kemarin yaitu mencari contoh puisi yang nantinya akan dibacakan didepan kelas. Langkah saya terhenti ketika seorang siswa menarik-narik saya dan mengatakan bahwa Pingkan menulis kata “Love Bu Nisa” di buku tugasnya. Saya berjalan menuju meja Pingkan dan memang disana saya menemukan tulisan itu dibawah puisinya. Saya pun hanya tersenyum dan terdiam disamping bangkunya. Energi itu telah dikirimkanNya.
Pagi ini saya memulai dengan ruhiyah yang cukup, dan ketika saya merasa pesimis menjalani hari ini, Allah mengirimkan malakat-malaikat kecilnya untuk menguatkan, mengirimkan energi-energi yang luar biasa besar. Karena kekuatan itu lah, saya berani memberikan contoh bagaimana membaca puisi yang baik. Saya tidak peduli disana ada Mbak Yuli yang sibuk merekam bagaimana saya membaca puisi. Saya sangat menikmatinya, melihat tatapan-tatapan mata takjub dan mengikuti suasana yang saya bangun. Terima kasih Ya Rabb atas segalanya yang Kau berikan hari ini.

26 September 2013
Hari ini adalah hari terakhir saya mengajar di SDN Jampang 4. Tempat dimana saya banyak ditempa dengan pengalaman yang luar biasa. Satu bulan magang rasanya baru dimulai kemarin sore. Sangat sebentar. Sungguh, sangat sebentar!
Pagi ini saya mengajar fotosintesis di kelas, setelah pertemuan sebelumnya saya mengajak mereka belajar di alam, menikmati sejuknya udara yang dihasilkan tumbuhan, rindangnya pepohonan di Kahuripan, menikmati teori fotosintesis lebih dekat. Karena waktu itu belum sempat memberi evaluasi dan saya ingin melihat sejauh mana kepemahaman mereka, hari ini saya meminta mereka untuk membuat lembar kerja yang isinya tentang apa saja yang mereka pahami terkait fotosintesis dan memberi saran dan kritik selama satu bulan belajar denganku. Siswa sangat antusias dengan hal ini, belajar hari ini dengan menulis, menggambar dan menghias. Tak seorang pun siswa mau saya baca tulisannya dikelas. Alhasil saya membawanya pulang ke asrama. Pembelajaran satu bulan saya tutup dengan cara ini. Meminta maaf kepada mereka, berpelukan dan saya harus merelakan tangan saya dielus-elus dan dipegang mereka seharian ini
Sesampainya di asrama, saya membaca tulisan mereka, kadang ada tawa, kadang tersentuh dengan tulisan mereka, kadang ingin sekali rasanya memeluk mereka. Dan tiba-tiba mataku terhenti dengan salah satu kertas yang ditulis oleh Hardita. Siswa yang cukup pendiam ketika saya bertemunya pertama kali. Dia menulis “Saya senang Bu Nisa sudah mengajarkan saya kelompok, berbicara, menyanyi dan bermain-main “
Kata-katanya mengingatkanku pada satu bulan yang lalu ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di kelas itu. Dan bertekad mengubah mereka. Saya ingat betul bagaimana kondisi mereka saat itu. Dan sekarang mereka jauh berbeda. Sangat jauh berbeda. Lebih berani berpendapat, jika diminta ke depan kelas saya tak perlu lagi mendatangi bangkunya dan menyemangatinya, tidak malu untuk bertanya, dan kehebatan-kehebatan mereka yang membuatku takjub.

Hari ini saya semakin paham bahwa seorang guru harus terus belajar dari siapa saja, termasuk juga mendapatkan pelajaran dari siswa. Saya berhasil melawan rasa malu saya untuk membaca puisi didepan orang lain. Dan mereka berani mendobrak ketakutannya sehingga bisa menjadi seperti itu. Terkadang kita sering berambisius untuk mengubah perilaku anak tetapi kita lupa bagaimana sifat diri kita sendiri. Lupa bahwa kita membutuhkan cermin, cermin untuk melihat diri kita sebenarnya. Bahwa kita sendiri juga perlu berubah dulu sebelum mengubah orang lain. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             

Menggenggam Indonesia!


Udara yang sejuk memasuki ruang paru-paruku. Dingin. Tupai melompat kegirangan dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Disambut pemandangan deretan gunung didepan mataku. Subhanallah, keindahan ini akan kunikmati 4,5 bulan disini. Asrama Sekolah Guru Indonesia. Aku tak pernah membayangkan Allah begitu cepat mengabulkan doaku untuk kembali menginjak tanah ini. Tanah sunda. Doa yang terlantun ketika penutupan Puskomdays di IPB tahun 2011. Ya, di tahun 2013 ini, Allah membuka halaman buku yang indah untukku.Untuk hidup yang lebih bermakna, menebar kebermanfaatan hingga pelosok negeri. Barakallah, semoga Allah meridhoi setiap langkah ini :)




Hutang itu....

Hutang itu harus dibayar. Tetapi sayangnya, tidak semua orang menyadari bahwa itu hutang. Saya rasa, hanya yang mendapatkan kasihNya yang "merasa" memang itu adalah hutang. Begitu sayangnya Allah kepadaku sehingga Ia memberi semangat untuk tak mudah putus asa, meskipun terkadang beberapa orang melihat sebelah mata, melihat dengan tatapan yang menjijikkan, mencemooh, dsb.

Hutang itu adalah perubahan. Sekuat apapun kita membayar hutang dan ketika ia berhasil membayarnya, ia akan sulit dipercaya oleh orang lain jika ingin meminjam uang lagi. Iya bukan? Mungkin hampir mirip seperti penjahat, yang ketika ia sudah insaf dan terjun ke masyarakat. Masyarakat akan sulit menerimanya, dan mungkin akan ada plang di kening penjahat itu "Mantan Penjahat". Manusiawi. Beruntunglah, Allah bukan manusia. Yang perlu dilakukan adalah selalu berteguh hati untuk berubah, sampai mereka menyadari bahwa penjahat itu benar-benar berubah. Masih syukur jika penjahat itu tetap istiqomah berubah, kalau dia tiba-tiba putus asa karena penilaian kita terus terjerumus kembali. Bisa-bisa kita yang dapat dosa. Kita sering terlupa bahwa setiap orang mempunyai catatannya tersendiri. Seringkali kali kita juga terlupa bahwa ego kita terlalu besar sehingga kita lupa umtuk menguatkannya.

Banyak orang yang telah menginspirasi kita untuk membayar hutang. Bahkan mungkin mereka membayarnya dengan sesuatu yang lebih besar dari hutangnya. Tengok saja, sekaliber Umar bin Khattab, atau yang made in Indonesia ada Ustadz Jefri. Banyak. Masih banyak yang lain. Yang mereka lakukan hanya terus, terus, terus berubah. Sampai Allah tersenyum kepadanya.

Allah, istiqomahkan hambamu yang dhoif ini..

#Seperti Umar bin Khattab, tertawa ketika mengingat kebodohannya dan menangis ketika mengingat kejahiliyaannya.







Minggu, 22 Januari 2012

Sholihah, are you?

Sholihah, sebuah kata yang sering kita dengar,dan sebuah title yang sangat diharapkan oleh semua muslimah.. iya ga? Bahkan ketika kebanyakan orang tua ditanyai ingin seperti apa anaknya, maka kata-kata yang sering terucap pertama kali adalah ‘saya ingin anakku sholihah..’ kalau laki-laki ditanyai ingin seperti apa istrinya, maka kebanyakan dari mereka akan mengatakan ‘sholihah’.. sebenarnya apa sih sholihah itu? Mentaati segala aturan Allah, menjauhi laranganNya,,bla bla bla.. Ah,,jawaban tersebut memang benar, tapi terlalu klasik. Bukan jawaban ini yang saya cari,,jawaban itu sudah terlalu sering,terlalu luas.. Akhirnya saya menanyakan ke beberapa teman dengan berbagai karakter, mulai dari yang ‘ahli masjid’ sampai yang ‘ahli pacaran’.. begini kata mereka,, cekidot..

“Klo sudut pandangku, wanita sholehah itu posisi yg sulit. Seorang yg tegas pendiriannya ttg hidup, tp juga tdk menyalahi kodrat klo dia makmum. Seorang yg mampu suport org2 disekitarnya utk brkembang, tp juga kudu punya hati yg luas seandainya ia merasa tersakiti atau dikecewakan. Posisinya sering dalam konteks paradoks yg serba sulit dlm bertindak, namun keadaan yg serba sulit tsb justru malah menempa hatinya untuk menjadi hamba Allah yg ikhlas..”

“Sholihah? Kyk nama orang,hehe..”

“Wanita muslim yg mengamalkan nilai islam dlm keseharian”

“Mencoba berbagi, sholihah = wanita sholeh, taat pd Allah,rasul, dan suami. Cukup 3 aja, insyaAllah bisa dikatakan sholihah”

“Kamu mau jawban yg mana Mu? Zaman sebelum reformasi apa orde baru? Hehe.. Sholih itu yg bisa ‘menggetarkan’ laki2 Mu.. kyk Jupe gt,hehe,, becanda Mu.. sholihah itu klo ngeliat dya itu cerminan Islam gt..”

“Sholihah = perempuan yg memiliki karakter jiwa seorang muslimah sejati, berpegang teguh pada Al Quran dan sunnah, mampu menjaga diri di segala kondisi, supel, mampu menjadi teladan dimanapun berada, berpengaruh baik terhadap lingkungan sekitar, dan sifat yg diidam2kan para lelaki”

“Sholilah itu tidak hanya dianalisis berdasar karakter aja. Yg namanya sholihah pastinya memenuhi muwashofat. Trmasuk braqidah bersih dan brpikiran lurus-cerdas shg mengimplementasikan akhlak yg trpuji, budi pekerti yg luhur, intelegensia kuat tdk hnya diukur dari kelogisan ato numerik, pondasi agama kuat dan berintegritas tinggi yg di dasari kepahaman. Stlh shalih, dia berusaha menshalihkan yg lain.”


Dari jawaban-jawaban tersebut, dapat ditarik benang merah yaitu seorang muslimah dikatakan ‘sholihah’ ketika hubungan vertikal dan horisontalnya ‘baik’. Hubungan vertikal merupakan hubungannya dengan Allah, kepatuhannya dalam membuktikan cinta kepada Sang Khalik. Sedangkan hubungan horisantal merupakan hubungannya dengan lingkungan sekitar, baik dengan orang tua, suami, tetangga, kepekaannya terhadap permasalahan sekitar,dsb. Kehadirannya sangat dinantikan bagi orang-orang sekitarnya, dicintai suami orang tua dan anak-anaknya, dinantikan kehadirannya oleh teman-temannya, dan di sayangi tetangganya, setiap orang yang memandangnya maka mereka akan melihat kebaikan daripadanya dan menyejukkan hati orang-orang disekitarnya. Kompleks kan? Berbanggalah kalian yang menjadi wanita karena hanya kalian lah yang mampu melakukan semua hal tersebut. Dan hanya wanita sholihah saja yang mampu membuat bidadari cemburu. Berusahalah untuk mencapai gelar itu kawan.. Coz you amazing.. Just the way you are.. =) _Bruno Mars_